Lamen Dan Falsafah Ilmu Padi

Lamen Dan Falsafah Ilmu Padi

Rabu, 18 Maret 2020, 17.20

TALIABU -  Sahabatku, pernahkah kalian mendengar ungkapan “Apalah arti sebuah nama ” ? Bagi sebagian orang, ungkapan tersebut merupakan premis yang seakan membenarkan jika nama tidak penting untuk dihiraukan, namun bagi yang memahami hakikat nama akan begitu berbeda dalam memahaminya.

Saya yakin, nama yang diberikan pada kita bukanlah kumpulan abjad apalagi kata-kata tak bertuah yang hanya dijadikan tanda pengenal. Nama adalah sebuah doa yang didalamnya terselip jutaan harapan orang tua kita. Nama adalah sebuah kekuatan yang ber‘arti’, sebuah filosofi yang mampu menghantarkan sejuta daya untuk mempengaruhi. Nama bukanlah sebuah goresan kosong yang hanya menjadi tanda sebuah materi.

Arti “nama” Lamen

Dalam pemberian nama, bahasa adalah variabel penting yang menjadi rujukan. Bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Sansekerta bahkan bahasa daerah adalah sebagian bahasa yang dijadikan rujukan untuk menunjukan identitas diri.

Nama Lamen dalam Bahasa Sansekerta (Lamèn) berarti Pohon Padi. Merujuk pada makna dan hakikat pohon padi dimaksudkan sebagai nilai yang dimiliki oleh padi. Ilmu padi bukanlah ilmu dalam arti sebenarnya, tetapi merupakan suatu pandangan atau filosofi hidup pada masyarakat Asia Tenggara, khususnya Melayu, yang diilhami dari perkembangan bulir padi sejak berbunga hingga bernas bulirnya.

Filosofi padi menggambarkan bahwa “semakin masak semakin merunduk”. Makna dari ungkapan ini adalah manusia tidak layak untuk bersikap angkuh atau sombong karena usia, jabatan dan kemampuan yang dimilikinya. Masyarakat akan memandang baik seseorang apabila semakin tinggi usia, semakin tinggi jabatan atau semakin tinggi kemampuannya, ia semakin merendahkan hatinya. Rendah hati di dalam filosofi Jawa sebagai sikap andhap asor, yaitu sikap merendah tanpa menghilangkan wibawa.

Semoga nama yang melekat disetiap kita mampu mewujudkan harapan dari doa orang tua, sebagai alamat untuk menegaskan identitas diri dan kita menjadi orang-orang yang rendah hati dan menjadi pribadi yang diunggulkan, seperti aforisme Jawa “sapa kang ngasorake diri bakal kaunggulake, lan sapa kang nggunggulake diri bakal diasorake”, artinya barang siapa yang bisa bersikap rendah hati, maka dirinya termasuk pribadi yang diunggulkan.(LamenSarihi) *

TerPopuler