Diduga Dana Desa di Korupsi, Jalan di Desa Kabali Dana TA 2018 Tidak Berkualitas dan Asal Jadi

Diduga Dana Desa di Korupsi, Jalan di Desa Kabali Dana TA 2018 Tidak Berkualitas dan Asal Jadi

Jumat, 14 Februari 2020, 21.32
kondisi jalan yang tidak berkualitas di Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi NTT
Sumba Barat Daya-NTT. Sejumlah warga kecewa atas kondisi jalan yang tidak berkualitas di Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi NTT.

 Warga menyesalkan pekerjaan jalan yang melintasi dua kampung di desa
tersebut. Salah satunya melintasi Kampung Wano Matuku – Simpang Deta Ate sepanjang 1.065 meter.

Sedangkan satunya lagi melintasi Kawango Dana – Reda Kapal sepanjang 1.300 meter.
Menurut warga kedua jalan yang dikerjakan dengan Dana Desa tahun anggaran 2018 ini tanpa
pemadatan.

 Akibatnya belum beberapa waktu dimanfaatkan sudah terkikis air.
Menurut Tinus warga setempat yang ditemui beberapa waktu lalu, jalan yang melintasik dikerjakan tanpa pemadatan. Setelah dilakukan penimbunan, sirtu dibentangkan eksavator.

Bahan ada timbunan jalan yang sirtunya diambil dari lokasi warga tanpa
dibayar padahal ada anggarannya.
Selain ketidakjelasan penggunaan dana ini, masyarakat pun mempertanyakan desain
jalan yang tidak memperhatikan kondisi lokasi.

Karena ada beberapa titik yang rawan terkikis air namun tidak memiliki saluran got. Ada pula titik lain yang sebelumnya disebut akan dibangunt penahan namun tidak dilakukan. Dengan pengerjaan yang tidak semestinya ini kondisi
jalan saat ini telah mengalami kerusakan.

“Misalnya pada tanjakan menuju Reda Kapal yang bersinggungan langsung dengan jalan
hotmix.

 Karena tidak dipadatkan dengan vibro, permukaan jalan ini sudah terkikis. Kondisi ini lagi dengan tidak adanya got sehingga makin memudahkan terkikisnya jalan oleh air.

Sudah tidak dipadatkan, saluran got pun cuma sepotong pada bagian bawah dekat deker.

Otomatis dengan kondisi hanya numpang saja di permukaan sekali hujan sirtu pun terkikis air,”ungkapnya.

Hal yang sama terjadi pada lokasi jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate, dengan tidak dilakukan pemadatan sebagai bagian akhir dari pekerjaan kondisi jalan ini sudah rusak.

Padahal pemadatan menggunakan vibro adalah wajib dan sangat vital agar sirtu tidak mudah terkikis oleh,
baik akibat lalu lalang manusia, hewan dan kendaraan yang melintasi jalan maupun faktor alams aliran air hujan.

Akibatnya, jalan ini hanya dinikmati warga sesaat saja, karena rusak
terkikis air maupun lalu-lalang kendaraan yang melintas.

Kondisi ini disayangkan pula oleh Agus salah seorang warga lainnya. Anggaran dana besar bagi pembangunan jalan tidak dimanfaatkan dengan benar sesuai rancangan anggaran yang
ditetapkan. Akibatnya, hasil pembangunan yang dinikmati warga dalam waktu sekejap sudahr parah.

Ia menyayangkan pelaksanaan pekerjaan yang justru menghilangkan item wajib dan
penting yakni pemadatan, sementara dananya dianggarkan. Karenanya ia berharap pihak
berwenang agar mengusut tuntas pekerjaan ini.

“Ini baru satu item kegiatan dalam satu tahun anggaran. Kami belum singgung item
kegiatan lain pada tahun anggaran berbeda. Pengelola Dana Desa harus diperiksa oleh pihakb  jangan dibiarkan begitu saja. Sebagai rakyat, kami tidak punya niat apa pun dalamh ini selain meminta agar hasil pekerjaan sesuai dengan anggarannya.

Pantas saja kepala desakami hobinya kerja jalan dimana-mana biar ada untung banyak. Kami minta, tolong jangan beri
kami hasil pembangunan yang sebagian besar dananya tidak jelas dikemanakan.

Contohnya ada anggaran angkut dan sewa vibro tapi tidak dilakukan pemadatan, dana itu lari kemana?,” tanya
Agus.
Dalam data APBDesa (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) Kabali Dana Tahun 2018, jumlah anggaran yang diperuntukkan bagi pekerjaan vibro di dua jalan itu berjumlah 30.512.000
rupiah. Untuk ruas jalan Kawango Dana – Reda Kapal anggaran sewa vibro berjumlah 9.968.000 rupiah dan mobilisasi vibro 6.000.000 rupiah. Sementara pada ruas jalan Wano Matuku .

Simpang Deta Ate dengan anggaran sewa vibro 8.544.000 rupiah dan mobilisasi vibro senilai 6.000.000 rupiah.

Kejanggalan lain muncul dari beberapa anggaran kegiatan seperti upah pekerja, mandor,tukang serta belanja pengadaan sirtu dan pasir yang menyolok. Upah pekerja mencapai 94.300.000 rupiah, padahal tidak pakai tenaga manusia kecuali untuk pekerjaan deker.

Anggaranu pekerja untuk jalan Kawango Dana – Reda Kapal 47.350.000 rupiah dan ruas jalan Wano
Matuku – Simpang Deta Ate 46.950.000 rupiah. Sedangkan upah mandor berjumlah total Rp 6.695.000 rupiah dengan rincian Wano Matuku – Simpang Deta Ate 3.185.000 rupiah dan
Kawango Dana – Reda Kapal 3.510.000 rupiah. Biaya tukang mencapai 20.240.000, dengan rincian Wano Matuku – Simpang Deta Ate 8.320.000 rupiah dan jalan Kawango Dana – Reda Kapal
11.920.000 rupiah. Ada juga biaya operasional dengan total 18.110.000 rupiah yang rinciannyau jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate 8.671.000 rupiah dan jalan Kawango Dana – Reda
Kapal 9.329.500 rupiah.

Jumlah tertinggi muncul pada anggaran sirtu yang mencapai 153.052.000 rupiah dengan-

rincian jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate 72.900.000 rupiah dan Kawango Dana – Reda Kapal 80.152.000 rupiah. Padahal menurut warga material sirtu sama sekali tidak dibayar, cumas eksavator dan dump truck. Sedangkan anggaran belanja pasir yang totalnya 36.225.000
rupiah dengan rincian jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate 15.600.000 rupiah dan jalan
Kawango Dana – Reda Kapal 20.625.000 rupiah. Sesuai pengamatan lokasi, dengan tiga deker
pada ruas jalan Kawango Dana – Reda Kapal anggaran belanja pasir tidak lebih dari 8.000.000 rupiah.

 Demikian pula pada ruas jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate.
Hal yang lebih mencengangkan lagi untuk dua jalan ini dianggarkan belanja semen
sebanyak 761 zak dengan harga per zak 82.500 rupiah. Ruas jalan Kawango Dana – Reda Kapal
memakan 447 zak semen dan ruas jalan Wano Matuku – Simpang Deta Ate menelan semen sebanyak 314 zak.

 Total semen yang dianggarkan untuk dua jalan ini mencapai 62.782.500
rupiah. Padahal jumlah deker yang menggunakan semen tidak lebih dari enam buah deker.

Total anggaran untuk pembangunan kedua jalan ini mencapai 510.815.000 rupiah. Dari keteranganbeberapa warga yang tak mau disebutkan namanya, sejak menjabat kepala desa mantan montir
bengkel ini sudah memiliki beberapa buah mobil dan sepeda motor serta sebuah rumah besar megah dengan menara menjulang ke langit.

Kepala Desa Kabali Dana, Yakob Lende yang berulangkali dikonfirmasi media ini tidakdapat dihubungi. Beberapa kali saat ditelepon malah dijawab oleh istri kepala desa.

Reporter Mias

TerPopuler