KOTA BEKASI - Rencana pelelangan armada bus Transpatriot oleh PT Mitra Patriot (PTMP) terus menuai sorotan. Di tengah riuh rendah pendapat publik, Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas Masyarakat Bekasi (SOMASI), Budi Ariyanto, mengajak semua pihak untuk menanggalkan sentimen pribadi dan kembali pada logika aturan.
Budi menilai, polemik yang berkembang saat ini cenderung berlebihan. Menurutnya, pelelangan aset daerah yang sudah tidak produktif adalah langkah wajar dalam manajemen keuangan, asalkan seluruh tahapan hukumnya terpenuhi.
"Jika seluruh proses sudah sesuai prosedur, lalu di mana letak masalahnya? Mari kita bersikap objektif dan berpikir jernih (fresh thinking)," tegas Budi di Bekasi, Rabu (14/1/2026).
Pria yang akrab disapa Budi Somasi ini mengingatkan, fungsi kontrol sosial memang krusial. Namun, ia mewanti-wanti agar kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah tidak ditunggangi oleh rasa kebencian atau ketidaksukaan personal yang justru mengaburkan substansi masalah.
Baginya, narasi yang dibangun haruslah produktif dan berorientasi pada solusi penyelamatan keuangan daerah, bukan sekadar gaduh.
"Jauhkan diri dari kebencian maupun rasa tidak suka yang berlebihan, karena hal tersebut justru tidak sehat. Kritik membangun harus jadi prioritas, bukan prasangka," imbuhnya.
Dukungan terhadap langkah efisiensi ini bukan tanpa alasan. Sebagai informasi, operasional Bus Transpatriot yang sebelumnya menjadi moda transportasi andalan warga dengan rute Summarecon hingga Pasar Alam Vida, telah terhenti sejak tahun lalu.
Kondisi bus yang tidak beroperasi namun tetap membebani biaya perawatan dinilai Budi sebagai inefisiensi anggaran. Oleh karena itu, pelelangan dianggap sebagai solusi rasional untuk menyelamatkan neraca keuangan perusahaan daerah.
"Saya sepakat kritik itu penting sebagai bentuk kontrol sosial. Namun, harus netral. Kebijakan ini perlu dilihat sebagai langkah penyelamatan keuangan daerah, selama transparan dan akuntabel," pungkas Budi.

