Simalungun-Sumut. Pemerintah Nagori Pamatang Syahkuda melalui Dana Desa Tahun 2019 galak melakukan sosialisasi kepada masyarakat desanya. Selain Sosialisasi tentang Kekerasan terhadap anak, kali ini Pangulu Nagori Pamatang Syahkuda menjalin Kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun untuk sosialisasi Stunting. Kegiatan ini berlangsung di halaman Kantor Nagori Pamatang Syahkuda, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Jum'at 20/12/2019 Sekira pukul 10.00 wib.
Kegiatan yang bersumber dari Dana Desa tahun 2019, dan berdasarkan Permendes no 16 tahun 2018 yang memprioritaskan Pemberdayaan Masyarakat ini di hadiri oleh Dinas Kesehatan Simalungun Kasmiaty Silalahi, MKM, Camat Kecamatan Gunung Malela Ir. Andi Pasaribu, Danramil Model, Kapolsek Bangun, Kapus Bahjambi Remsi Tarihoran, Manager kebun Sipef Risal, Ketua Maujana, Perangkat Nagori Pamatang Syahkuda dan undangan lain, serta para Ibu-ibu warga setempat.
"Nagori Pamatang Syahkuda melakukan berbagai upaya dalam mengatasi masalah Stunting. Hal ini dilakukan dari lingkungan terkecil melalui pembangunan masyarakat desa ini mengambil tema "Ayo Cegah Dan Turunkan Stunting Dengan Pola Hidup Bersih, Makanan Sehat dan Bergizi Untuk Mewujudkan Generasi Unggul. Bahkan sosialisasi ini juga bersumber dari Dana Desa tahun 2019, dan berlandaskan hukum Permendes no 16 tahun 2018, tentang prioritas Pemberdayaan Masyarakat", papar Suwardi SE, MM saat memberikan kata sambutan.
Staf Ahli Kabupaten Simalungun Royani Harahap dalam paparannya di depan warga yang mayoritas ibu-ibu mengatakan, "Mari kita cegah para suami-sumai untuk tidak mengkonsumsi arak dan obat-obatan yang di larang, karena hal tersebut merupakan salah satu penyebab janin atau bayi dalam kandungan gagal tumbuh", ungkap Royani.
Kasmiaty Silalahi dalam paparannya menyampaikan keinginginannya tentang optimalisasi peran kepala desa dan posyandu dalam mengatasi masalah Stunting di desa. Dimana posyandu merupakan pelayanan kesehatan bayi dan balita di masyarakat. Dia juga menyarankan kepala desa untuk selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan bidan desa dan kader posyandu dalam upaya mengatasi masalah Stunting di desa. Upaya untuk mengatasi masalah Stunting dapat dilakukan secara intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive.
Intervensi gizi spesifik ini ditujukan kepada ibu hamil dalam 1000 hari pertama kehidupan dilakukan oleh sektor kesehatan dimulai saat kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Sedangkan intervensi gizi sensitif merupakan kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan", tegasnya.
Sementara ahli gizi Puskesmas Bahjambi Remsi Tarihoran mengatakan yang perlu dikhawatirkan bukan hanya Stunting saja tapi bila terjadi gizi buruk dan Stunting itu yang lebih berbahaya karena kondisi anak yang lemah. Penyebab gizi buruk dan Stunting terdapat pada akses makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termaksud sanitasi dan air bersih.
Remsi Tarihoran juga mengajak Kepala desa lebih fokus dalam menangani sanitasi air bersih, pola asuh dan sosialisasi jangan nikah dini kepada masyarakat. Disamping itu Remsi juga mengajak ibu-ibu untuk mempraktekan tata cara mengelola makanan sehat bergizi yang di peruntukannya bagi baluta (bayi di bawah dua tahun) di lokasi kegiatan tersebut.
Dalam kegiatan sosialisasi ini juga di serahkan sejumlah PMT kepada penderita Stunting, berupa beras, gula pasir, kacang hijau, telur ayam dan kacang kedelai. Dalam kesempatan itu, Staf Ahli Royani Harahap mengajukan pertanyaan kepada Pangulu Pamatang Syahkuda terkait penurunan angka Stunting di Nagori, dengan tegas pangulu menjawab penurunan yang sudah di capai mendekati angka 50 persen. Diharapkan dengan sosialisasi ini angka Stunting di Nagori Pamatang Syahkuda dapat menurun hingga tidak ada lagi baluta yang mengalami gagal tumbuh", tutup Suwardi SE, MM. Di akhir acara seluruh undangan berfoto bersama dengan yel-yel tolak Stunting. (Tim/RU)
Kegiatan yang bersumber dari Dana Desa tahun 2019, dan berdasarkan Permendes no 16 tahun 2018 yang memprioritaskan Pemberdayaan Masyarakat ini di hadiri oleh Dinas Kesehatan Simalungun Kasmiaty Silalahi, MKM, Camat Kecamatan Gunung Malela Ir. Andi Pasaribu, Danramil Model, Kapolsek Bangun, Kapus Bahjambi Remsi Tarihoran, Manager kebun Sipef Risal, Ketua Maujana, Perangkat Nagori Pamatang Syahkuda dan undangan lain, serta para Ibu-ibu warga setempat.
"Nagori Pamatang Syahkuda melakukan berbagai upaya dalam mengatasi masalah Stunting. Hal ini dilakukan dari lingkungan terkecil melalui pembangunan masyarakat desa ini mengambil tema "Ayo Cegah Dan Turunkan Stunting Dengan Pola Hidup Bersih, Makanan Sehat dan Bergizi Untuk Mewujudkan Generasi Unggul. Bahkan sosialisasi ini juga bersumber dari Dana Desa tahun 2019, dan berlandaskan hukum Permendes no 16 tahun 2018, tentang prioritas Pemberdayaan Masyarakat", papar Suwardi SE, MM saat memberikan kata sambutan.
Staf Ahli Kabupaten Simalungun Royani Harahap dalam paparannya di depan warga yang mayoritas ibu-ibu mengatakan, "Mari kita cegah para suami-sumai untuk tidak mengkonsumsi arak dan obat-obatan yang di larang, karena hal tersebut merupakan salah satu penyebab janin atau bayi dalam kandungan gagal tumbuh", ungkap Royani.
Kasmiaty Silalahi dalam paparannya menyampaikan keinginginannya tentang optimalisasi peran kepala desa dan posyandu dalam mengatasi masalah Stunting di desa. Dimana posyandu merupakan pelayanan kesehatan bayi dan balita di masyarakat. Dia juga menyarankan kepala desa untuk selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan bidan desa dan kader posyandu dalam upaya mengatasi masalah Stunting di desa. Upaya untuk mengatasi masalah Stunting dapat dilakukan secara intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive.
Intervensi gizi spesifik ini ditujukan kepada ibu hamil dalam 1000 hari pertama kehidupan dilakukan oleh sektor kesehatan dimulai saat kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Sedangkan intervensi gizi sensitif merupakan kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan", tegasnya.
Sementara ahli gizi Puskesmas Bahjambi Remsi Tarihoran mengatakan yang perlu dikhawatirkan bukan hanya Stunting saja tapi bila terjadi gizi buruk dan Stunting itu yang lebih berbahaya karena kondisi anak yang lemah. Penyebab gizi buruk dan Stunting terdapat pada akses makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termaksud sanitasi dan air bersih.
Remsi Tarihoran juga mengajak Kepala desa lebih fokus dalam menangani sanitasi air bersih, pola asuh dan sosialisasi jangan nikah dini kepada masyarakat. Disamping itu Remsi juga mengajak ibu-ibu untuk mempraktekan tata cara mengelola makanan sehat bergizi yang di peruntukannya bagi baluta (bayi di bawah dua tahun) di lokasi kegiatan tersebut.
Dalam kegiatan sosialisasi ini juga di serahkan sejumlah PMT kepada penderita Stunting, berupa beras, gula pasir, kacang hijau, telur ayam dan kacang kedelai. Dalam kesempatan itu, Staf Ahli Royani Harahap mengajukan pertanyaan kepada Pangulu Pamatang Syahkuda terkait penurunan angka Stunting di Nagori, dengan tegas pangulu menjawab penurunan yang sudah di capai mendekati angka 50 persen. Diharapkan dengan sosialisasi ini angka Stunting di Nagori Pamatang Syahkuda dapat menurun hingga tidak ada lagi baluta yang mengalami gagal tumbuh", tutup Suwardi SE, MM. Di akhir acara seluruh undangan berfoto bersama dengan yel-yel tolak Stunting. (Tim/RU)

