SUMENEP – Kemarau panjang tahun ini berdampak terjadinya kekeringan air atau tidak tersedianya air bersih di Dusun Pabitta Desa Batuputih Kecamatan Kangayan Kabupaten Sumenep. Melalui program kemanusian, Warga Desa Sawahsumur Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep Jawa Timur, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuda Sawahsumur bersama para relawan, menyalurkan bantuan air bersih yang diangkut dengan menggunakan mobil truk menuju lokasi Dusun Pabitta yang terdampak krisis air bersih. Kamis (24/10/2019).
Supriyadi, S.IP, M.IP, Ketua umum Forum Komunikasi Pemuda Sawahsumur (FKPS) kepada media ini menyampaikan bahwa penyaluran bantuan air bersih ini merupakan program kemanusian, FKPS bersama para relawan berbagi bantuan untuk masyarakat Dusun Pabitta yang sedang mengalami krisis air bersih.
“Kami FKPS bersama para relawan bekerjasama dengan Baitul Maal Bhapedes”, akunya.
Kata Supriyadi, sekitar 30.000 liter air bersih yang kami salurkan dengan menggunakan wadah beberapa tandon air, diangkut menggunakan mobil truk. Bantuan air bersih ini setidaknya bisa mereka (warga Dusun Pabitta) gunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan air untuk keperluan lainnya, mereka gunakan air alternatif lain.
“Melalui jalan berbatu dan bergelombang tanpa aspal, kami sampai ke lokasi penyaluran bantuan. Sambutan baik dan ucapan syukur dari warga Pabitta, adalah bayaran termahal bagi kami. Semoga Pemerintah bisa memberikan solusi terhadap krisis air bersih yang setiap tahun dialami mereka”.
Icha, Warga Desa Sawahsumur yang tergabung bersama FKPS ikut serta dalam penyaluran air bersih tersebut, kepada media ini mengatakan bahwa warga Dusun Pabitta yang penerima bantuan air bersih kurang lebih 150 kepala keluarga (KK), dengan masing-masing KK mendapatkan air 50 liter sampai 150 liter. Akibat krisis air bersih tersebut, Warga Pabitta selama ini terpaksa mengambil air dari Desa lain dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Terkadang untuk mendapatkan air bersih Warga Dusun Pabitta harus membeli kepada orang dari Desa lain yang sengaja datang untuk menjual air dengan harga Rp.5000 per 50 liter air atau satu wadah Derigen. Sehingga pengeluaran belanja bertambah untuk membeli air.
“Kegiatan ini murni menggunakan kas FKPS dan Bhaitul Maal. Bagi yang mau Donasi dipersilahkan, karena kegiatan ini insya’allah berkelanjutan”, penuh harap.
Ustad Ruslan, salah satu tokoh Masyarakat Dusun Pabitta, saat dikonfirmasi media ini mengatakan bahwa, sekitar tiga bulan warga Dusun Pabitta mengalami krisis air bersih. Dan pada saat ini sumur yang biasanya dipakai warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sama sekali tidak bisa digunakan, baik untuk mandi apalagi untuk memasak, karena kotor bercampur tanah liat.
“Dari Pemerintah Desa sudah pernah melakukan pengeboran, tapi tidak berhasil atau tidak keluar air”, tutur Ruslan.
Taufik Putra Emha, petugas Pendamping Desa Batuputih Kecamatan Kangayan, saat dikonfirmasi media ini, mengatakan bahwa Pemerintah Desa Batuputih sudah melakukan upaya mengatasi kekurangan kebutuhan air ketika musim kemarau tiba, khususnya di Dusun Pabitta.
“Kami (Pemerintah Desa) sejak tahun 2017 sudah tiga kali (3x) melakukan pengeboran air. Kami lakukan ditiga titik lokasi yang berbeda”, pengakuannya.
Abd. Rahman Riyadi, Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, saat dimintai keterangannya mengatakan, bahwa jika mengacu pada Peraturan Mentri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi (Permendes-PDTT) RI No.16 tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa (DD), tertera dipasal 5 huruf D, dan pasal 6, untuk penanganan kekeringan dan krisis air bersih dapat menggunakan Dana Desa.
Terhadap terjadinya krisis air bersih di Dusun Pabitta Desa Batuputih Kecamatan Kangayan tersebut, Kepala Desa bisa menyampaikan laporan tertulis terjadinya kekeringan air di Desa tersebut. Laporan diketahui oleh camat setempat, ditujukan kepada Bupati Sumenep dan tembusan kepada OPD terkait, sehingga daerah yang mengalami kekeringan atau krisis air bersih itu terdata di Kabupaten Sumenep.
Pada tahun ini, kita (BPBD) Sumenep baru bisa menyaluran bantuan air bersih untuk daerah-daerah yang terdampak kekeringan air bersih, baru bisa mengcover wilayah sumenep daratan, sedangkan wilayah sumenep kepulauan hanya sampai di Kecamatan Talango, Untuk kepulauan lainnya belum bisa kami lakukan, karena ketika pengiriman air kita harus memenuhi beberapa Stadart Operasinal Prosedur (SOP).
“Air yang kita salurkan harus sesuai stadart kesehatan dan harus menggunakan mobil tangki air. Dan itu adanya di PDAM. Jadi kita berkoordinasi atau kerjasama dengan pihak PDAM”, tegasnya. Kamis (24/10/2019. (JN)
Supriyadi, S.IP, M.IP, Ketua umum Forum Komunikasi Pemuda Sawahsumur (FKPS) kepada media ini menyampaikan bahwa penyaluran bantuan air bersih ini merupakan program kemanusian, FKPS bersama para relawan berbagi bantuan untuk masyarakat Dusun Pabitta yang sedang mengalami krisis air bersih.
“Kami FKPS bersama para relawan bekerjasama dengan Baitul Maal Bhapedes”, akunya.
Kata Supriyadi, sekitar 30.000 liter air bersih yang kami salurkan dengan menggunakan wadah beberapa tandon air, diangkut menggunakan mobil truk. Bantuan air bersih ini setidaknya bisa mereka (warga Dusun Pabitta) gunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan air untuk keperluan lainnya, mereka gunakan air alternatif lain.
“Melalui jalan berbatu dan bergelombang tanpa aspal, kami sampai ke lokasi penyaluran bantuan. Sambutan baik dan ucapan syukur dari warga Pabitta, adalah bayaran termahal bagi kami. Semoga Pemerintah bisa memberikan solusi terhadap krisis air bersih yang setiap tahun dialami mereka”.
Icha, Warga Desa Sawahsumur yang tergabung bersama FKPS ikut serta dalam penyaluran air bersih tersebut, kepada media ini mengatakan bahwa warga Dusun Pabitta yang penerima bantuan air bersih kurang lebih 150 kepala keluarga (KK), dengan masing-masing KK mendapatkan air 50 liter sampai 150 liter. Akibat krisis air bersih tersebut, Warga Pabitta selama ini terpaksa mengambil air dari Desa lain dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Terkadang untuk mendapatkan air bersih Warga Dusun Pabitta harus membeli kepada orang dari Desa lain yang sengaja datang untuk menjual air dengan harga Rp.5000 per 50 liter air atau satu wadah Derigen. Sehingga pengeluaran belanja bertambah untuk membeli air.
“Kegiatan ini murni menggunakan kas FKPS dan Bhaitul Maal. Bagi yang mau Donasi dipersilahkan, karena kegiatan ini insya’allah berkelanjutan”, penuh harap.
Ustad Ruslan, salah satu tokoh Masyarakat Dusun Pabitta, saat dikonfirmasi media ini mengatakan bahwa, sekitar tiga bulan warga Dusun Pabitta mengalami krisis air bersih. Dan pada saat ini sumur yang biasanya dipakai warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sama sekali tidak bisa digunakan, baik untuk mandi apalagi untuk memasak, karena kotor bercampur tanah liat.
“Dari Pemerintah Desa sudah pernah melakukan pengeboran, tapi tidak berhasil atau tidak keluar air”, tutur Ruslan.
Taufik Putra Emha, petugas Pendamping Desa Batuputih Kecamatan Kangayan, saat dikonfirmasi media ini, mengatakan bahwa Pemerintah Desa Batuputih sudah melakukan upaya mengatasi kekurangan kebutuhan air ketika musim kemarau tiba, khususnya di Dusun Pabitta.
“Kami (Pemerintah Desa) sejak tahun 2017 sudah tiga kali (3x) melakukan pengeboran air. Kami lakukan ditiga titik lokasi yang berbeda”, pengakuannya.
Abd. Rahman Riyadi, Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, saat dimintai keterangannya mengatakan, bahwa jika mengacu pada Peraturan Mentri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi (Permendes-PDTT) RI No.16 tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa (DD), tertera dipasal 5 huruf D, dan pasal 6, untuk penanganan kekeringan dan krisis air bersih dapat menggunakan Dana Desa.
Terhadap terjadinya krisis air bersih di Dusun Pabitta Desa Batuputih Kecamatan Kangayan tersebut, Kepala Desa bisa menyampaikan laporan tertulis terjadinya kekeringan air di Desa tersebut. Laporan diketahui oleh camat setempat, ditujukan kepada Bupati Sumenep dan tembusan kepada OPD terkait, sehingga daerah yang mengalami kekeringan atau krisis air bersih itu terdata di Kabupaten Sumenep.
Pada tahun ini, kita (BPBD) Sumenep baru bisa menyaluran bantuan air bersih untuk daerah-daerah yang terdampak kekeringan air bersih, baru bisa mengcover wilayah sumenep daratan, sedangkan wilayah sumenep kepulauan hanya sampai di Kecamatan Talango, Untuk kepulauan lainnya belum bisa kami lakukan, karena ketika pengiriman air kita harus memenuhi beberapa Stadart Operasinal Prosedur (SOP).
“Air yang kita salurkan harus sesuai stadart kesehatan dan harus menggunakan mobil tangki air. Dan itu adanya di PDAM. Jadi kita berkoordinasi atau kerjasama dengan pihak PDAM”, tegasnya. Kamis (24/10/2019. (JN)

