SANANA- Sepertinya festival Maksaira yang ketiga kali jauh lebih penting dari penggusuran gunung lida Mantua di Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul). Buktinya, jalan yang ulang-ulang kali memakan korban jiwa jauh lebih kecil nilai proyeknya ketimbang anggaran festival maksaira kepsul.
Festival Maksaira yang ketiga kali di 2019 tersebut nilai anggarannya sebesar Rp. 729 juta ini bersamaan dengan nilai kontrak proyek jalan lida Mantua yang sementara masih dalam proses lelang yang sebesar Rp. 450 juta. Padahal, dilihat dari kondisi kebutuhan, lida Mantua jauh lebih penting dari pada festival Maksaira.
Dari data yang dihimpun media ini, korban meninggal di jalan Mantua itu sebanyak 4 orang telah meninggal dunia, 23 orang pernah luka berat yang pernah di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana. “Kami orang Sulabesi Barat sebenarnya sangat tersinggung dengan hal itu. Karena, festival Maksaira jauh lebih penting dengan jalan Mantua,” kata Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa (HIPMA) Sulabesi Barat, Irwan Fokatea kepada wartawan, Kamis (01/08/19).
Irwan mengatakan, sebenarnya Pemerintah Daerah (Pemda) Kepsul tidak menghargai masyarakat Sulabesi Barat (Sulbar). Kalau memang Pemda Kepsul hargai masyarakat, tidak mungkin nilai proyeknya kecil seperti itu. “Masa jalan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat lebih kecil dari festival. Festival ini dilakukan demi keuntungannya siapa, jangan-jangan hanya kepentingan segelintir orang saja,” tegasnya.
Menurut Irwan, Kepulauan Sula ini, sebenarnya belum layak melakuan festival. Sebab, dari kondisi pembangunan yang ada saat ini belum layak untuk lakukan festival. “Sula masih butuh pembenahan pembangunan. Kondisi pembangunan seperti di Sula ini jangan bikin malu-malu diri sendiri dengan pertontonkan keburukan pembangunan ke orang lain,” semprot Irwan.
Sebaiknya, Irwan menambahkan, anggaran yang dilakukan untuk festival itu dipergunakan untuk hal-hal yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Contohnya seperti jalan di lida Mantua, pembangunan mesjid Pohea, pembangunan pasar Basanohi dan masih banyak lagi yang ada di Sula. “Pemda jangan hanya pikir diri sendiri tetapi harus utamakan kebutuhan masyarakat,” cetusnya.red
Festival Maksaira yang ketiga kali di 2019 tersebut nilai anggarannya sebesar Rp. 729 juta ini bersamaan dengan nilai kontrak proyek jalan lida Mantua yang sementara masih dalam proses lelang yang sebesar Rp. 450 juta. Padahal, dilihat dari kondisi kebutuhan, lida Mantua jauh lebih penting dari pada festival Maksaira.
Dari data yang dihimpun media ini, korban meninggal di jalan Mantua itu sebanyak 4 orang telah meninggal dunia, 23 orang pernah luka berat yang pernah di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana. “Kami orang Sulabesi Barat sebenarnya sangat tersinggung dengan hal itu. Karena, festival Maksaira jauh lebih penting dengan jalan Mantua,” kata Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa (HIPMA) Sulabesi Barat, Irwan Fokatea kepada wartawan, Kamis (01/08/19).
Irwan mengatakan, sebenarnya Pemerintah Daerah (Pemda) Kepsul tidak menghargai masyarakat Sulabesi Barat (Sulbar). Kalau memang Pemda Kepsul hargai masyarakat, tidak mungkin nilai proyeknya kecil seperti itu. “Masa jalan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat lebih kecil dari festival. Festival ini dilakukan demi keuntungannya siapa, jangan-jangan hanya kepentingan segelintir orang saja,” tegasnya.
Menurut Irwan, Kepulauan Sula ini, sebenarnya belum layak melakuan festival. Sebab, dari kondisi pembangunan yang ada saat ini belum layak untuk lakukan festival. “Sula masih butuh pembenahan pembangunan. Kondisi pembangunan seperti di Sula ini jangan bikin malu-malu diri sendiri dengan pertontonkan keburukan pembangunan ke orang lain,” semprot Irwan.
Sebaiknya, Irwan menambahkan, anggaran yang dilakukan untuk festival itu dipergunakan untuk hal-hal yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Contohnya seperti jalan di lida Mantua, pembangunan mesjid Pohea, pembangunan pasar Basanohi dan masih banyak lagi yang ada di Sula. “Pemda jangan hanya pikir diri sendiri tetapi harus utamakan kebutuhan masyarakat,” cetusnya.red

